home

Jumat, 28 April 2017

Kisah Imam Syafie

Nama dan Nasab
Beliau bernama Muhammad dengan kun-yah Abu Abdillah. Nasab beliau secara lengkap adalah Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Syafi‘ bin as-Saib bin ‘Ubayd bin ‘Abdu Zayd bin Hasyim bin al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf bin Qushay. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah pada diri ‘Abdu Manaf bin Qushay. Dengan begitu, beliau masih termasuk sanak kandung Rasulullah karena masih terhitung keturunan paman-jauh beliau , yaitu Hasyim bin al-Muththalib.
Bapak beliau, Idris, berasal dari daerah Tibalah
(Sebuah daerah di wilayah Tihamah di jalan menuju ke Yaman). Dia seorang yang tidak berpunya. Awalnya dia tinggal di Madinah lalu berpindah dan menetap di ‘Asqalan (Kota tepi pantai di wilayah Palestina) dan akhirnya meninggal dalam keadaan masih muda di sana. Syafi‘, kakek dari kakek beliau, -yang namanya menjadi sumber penisbatan beliau (Syafi‘i)- menurut sebagian ulama adalah seorang sahabat shigar (yunior) Nabi. As-Saib, bapak Syafi‘, sendiri termasuk sahabat kibar (senior) yang memiliki kemiripan fisik dengan Rasulullah saw. Dia termasuk dalam barisan tokoh musyrikin Quraysy dalam Perang Badar. Ketika itu dia tertawan lalu menebus sendiri dirinya dan menyatakan masuk Islam.
Para ahli sejarah dan ulama nasab serta ahli hadits bersepakat bahwa Imam Syafi‘i berasal dari keturunan Arab murni. Imam Bukhari dan Imam Muslim telah memberi kesaksian mereka akan kevalidan nasabnya tersebut dan ketersambungannya dengan nasab Nabi, kemudian mereka membantah pendapat-pendapat sekelompok orang dari kalangan Malikiyah dan Hanafiyah yang menyatakan bahwa Imam Syafi‘i bukanlah asli keturunan Quraysy secara nasab, tetapi hanya keturunan secara wala’ saja.
Adapun ibu beliau, terdapat perbedaan pendapat tentang jati dirinya. Beberapa pendapat mengatakan dia masih keturunan al-Hasan bin ‘Ali bin Abu Thalib, sedangkan yang lain menyebutkan seorang wanita dari kabilah Azadiyah yang memiliki kun-yah Ummu Habibah. Imam an-Nawawi menegaskan bahwa ibu Imam Syafi‘i adalah seorang wanita yang tekun beribadah dan memiliki kecerdasan yang tinggi. Dia seorang yang faqih dalam urusan agama dan memiliki kemampuan melakukan istinbath.

Waktu dan Tempat Kelahirannya
Beliau dilahirkan pada tahun 150H. Pada tahun itu pula, Abu Hanifah wafat sehingga dikomentari oleh al-Hakim sebagai isyarat bahwa beliau adalah pengganti Abu Hanifah dalam bidang yang ditekuninya.
Tentang tempat kelahirannya, banyak riwayat yang menyebutkan beberapa tempat yang berbeda. Akan tetapi, yang termasyhur dan disepakati oleh ahli sejarah adalah kota Ghazzah (Sebuah kota yang terletak di perbatasan wilayah Syam ke arah Mesir. Tepatnya di sebelah Selatan Palestina. Jaraknya dengan kota Asqalan sekitar dua farsakh). Tempat lain yang disebut-sebut adalah kota Asqalan dan Yaman.
Ibnu Hajar memberikan penjelasan bahwa riwayat-riwayat tersebut dapat digabungkan dengan dikatakan bahwa beliau dilahirkan di sebuah tempat bernama Ghazzah di wilayah Asqalan. Ketika berumur dua tahun, beliau dibawa ibunya ke negeri Hijaz dan berbaur dengan penduduk negeri itu yang keturunan Yaman karena sang ibu berasal dari kabilah Azdiyah (dari Yaman). Lalu ketika berumur 10 tahun, beliau dibawa ke Mekkah, karena sang ibu khawatir nasabnya yang mulia lenyap dan terlupakan.

Pertumbuhannya dan Pengembaraannya Mencari Ilmu
Di Mekkah, Imam Syafi ‘i dan ibunya tinggal di dekat Syi‘bu al-Khaif. Di sana, sang ibu mengirimnya belajar kepada seorang guru. Sebenarnya ibunya tidak mampu untuk membiayainya, tetapi sang guru ternyata rela tidak dibayar setelah melihat kecerdasan dan kecepatannya dalam menghafal. Imam Syafi‘i bercerita, “Di al-Kuttab (sekolah tempat menghafal Alquran), saya melihat guru yang mengajar di situ membacakan murid-muridnya ayat Alquran, maka aku ikut menghafalnya. Sampai ketika saya menghafal semua yang dia diktekan, dia berkata kepadaku, “Tidak halal bagiku mengambil upah sedikitpun darimu.” Dan ternyata kemudian dengan segera guru itu mengangkatnya sebagai penggantinya (mengawasi murid-murid lain) jika dia tidak ada. Demikianlah, belum lagi menginjak usia baligh, beliau telah berubah menjadi seorang guru.
Setelah rampung menghafal Alquran di al-Kuttab, beliau kemudian beralih ke Masjidil Haram untuk menghadiri majelis-majelis ilmu di sana. Sekalipun hidup dalam kemiskinan, beliau tidak berputus asa dalam menimba ilmu. Beliau mengumpulkan pecahan tembikar, potongan kulit, pelepah kurma, dan tulang unta untuk dipakai menulis. Sampai-sampai tempayan-tempayan milik ibunya penuh dengan tulang-tulang, pecahan tembikar, dan pelepah kurma yang telah bertuliskan hadits-hadits Nabi. Dan itu terjadi pada saat beliau belum lagi berusia baligh. Sampai dikatakan bahwa beliau telah menghafal Alquran pada saat berusia 7 tahun, lalu membaca dan menghafal kitab Al-Muwaththa’ karya Imam Malik pada usia 12 tahun sebelum beliau berjumpa langsung dengan Imam Malik di Madinah.
Beliau juga tertarik mempelajari ilmu bahasa Arab dan syair-syairnya. Beliau memutuskan untuk tinggal di daerah pedalaman bersama suku Hudzail yang telah terkenal kefasihan dan kemurnian bahasanya, serta syair-syair mereka. Hasilnya, sekembalinya dari sana beliau telah berhasil menguasai kefasihan mereka dan menghafal seluruh syair mereka, serta mengetahui nasab orang-orang Arab, suatu hal yang kemudian banyak dipuji oleh ahli-ahli bahasa Arab yang pernah berjumpa dengannya dan yang hidup sesudahnya. Namun, takdir Allah telah menentukan jalan lain baginya. Setelah mendapatkan nasehat dari dua orang ulama, yaitu Muslim bin Khalid az-Zanji -mufti kota Mekkah-, dan al-Husain bin ‘Ali bin Yazid agar mendalami ilmu fiqih, maka beliau pun tersentuh untuk mendalaminya dan mulailah beliau melakukan pengembaraannya mencari ilmu.
Beliau mengawalinya dengan menimbanya dari ulama-ulama kotanya, Mekkah, seperti Muslim bin Khalid, Dawud bin Abdurrahman al-‘Athar, Muhammad bin Ali bin Syafi’ –yang masih terhitung paman jauhnya-, Sufyan bin ‘Uyainah –ahli hadits Mekkah-, Abdurrahman bin Abu Bakar al-Maliki, Sa’id bin Salim, Fudhail bin ‘Iyadh, dan lain-lain. Di Mekkah ini, beliau mempelajari ilmu fiqih, hadits, lughoh, dan Muwaththa’ Imam Malik. Di samping itu beliau juga mempelajari keterampilan memanah dan menunggang kuda sampai menjadi mahir sebagai realisasi pemahamannya terhadap ayat 60 surat Al-Anfal. Bahkan dikatakan bahwa dari 10 panah yang dilepasnya, 9 di antaranya pasti mengena sasaran.
Setelah mendapat izin dari para syaikh-nya untuk berfatwa, timbul keinginannya untuk mengembara ke Madinah, Dar as-Sunnah, untuk mengambil ilmu dari para ulamanya. Terlebih lagi di sana ada Imam Malik bin Anas, penyusun al-Muwaththa’. Maka berangkatlah beliau ke sana menemui sang Imam. Di hadapan Imam Malik, beliau membaca al-Muwaththa’ yang telah dihafalnya di Mekkah, dan hafalannya itu membuat Imam Malik kagum kepadanya. Beliau menjalani mulazamah kepada Imam Malik demi mengambil ilmu darinya sampai sang Imam wafat pada tahun 179. Di samping Imam Malik, beliau juga mengambil ilmu dari ulama Madinah lainnya seperti Ibrahim bin Abu Yahya, ‘Abdul ‘Aziz ad-Darawardi, Athaf bin Khalid, Isma‘il bin Ja‘far, Ibrahim bin Sa‘d dan masih banyak lagi.
Setelah kembali ke Mekkah, beliau kemudian melanjutkan mencari ilmu ke Yaman. Di sana beliau mengambil ilmu dari Mutharrif bin Mazin dan Hisyam bin Yusuf al-Qadhi, serta yang lain. Namun, berawal dari Yaman inilah beliau mendapat cobaan –satu hal yang selalu dihadapi oleh para ulama, sebelum maupun sesudah beliau-. Di Yaman, nama beliau menjadi tenar karena sejumlah kegiatan dan kegigihannya menegakkan keadilan, dan ketenarannya itu sampai juga ke telinga penduduk Mekkah. Lalu, orang-orang yang tidak senang kepadanya akibat kegiatannya tadi mengadukannya kepada Khalifah Harun ar-Rasyid, Mereka menuduhnya hendak mengobarkan pemberontakan bersama orang-orang dari kalangan Alawiyah.
Sebagaimana dalam sejarah, Imam Syafi‘i hidup pada masa-masa awal pemerintahan Bani ‘Abbasiyah yang berhasil merebut kekuasaan dari Bani Umayyah. Pada masa itu, setiap khalifah dari Bani ‘Abbasiyah hampir selalu menghadapi pemberontakan orang-orang dari kalangan ‘Alawiyah. Kenyataan ini membuat mereka bersikap sangat kejam dalam memadamkan pemberontakan orang-orang ‘Alawiyah yang sebenarnya masih saudara mereka sebagai sesama Bani Hasyim. Dan hal itu menggoreskan rasa sedih yang mendalam pada kaum muslimin secara umum dan pada diri Imam Syafi‘i secara khusus. Dia melihat orang-orang dari Ahlu Bait Nabi menghadapi musibah yang mengenaskan dari penguasa. Maka berbeda dengan sikap ahli fiqih selainnya, beliau pun menampakkan secara terang-terangan rasa cintanya kepada mereka tanpa rasa takut sedikitpun, suatu sikap yang saat itu akan membuat pemiliknya merasakan kehidupan yang sangat sulit.
Sikapnya itu membuatnya dituduh sebagai orang yang bersikap tasyayyu‘, padahal sikapnya sama sekali berbeda dengan tasysyu’ model orang-orang syi‘ah. Bahkan Imam Syafi‘i menolak keras sikap tasysyu’ model mereka itu yang meyakini ketidakabsahan keimaman Abu Bakar, Umar, serta ‘Utsman , dan hanya meyakini keimaman Ali, serta meyakini kemaksuman para imam mereka. Sedangkan kecintaan beliau kepada Ahlu Bait adalah kecintaan yang didasari oleh perintah-perintah yang terdapat dalam Alquran maupun hadits-hadits shahih. Dan kecintaan beliau itu ternyata tidaklah lantas membuatnya dianggap oleh orang-orang syiah sebagai ahli fiqih madzhab mereka.
Tuduhan dusta yang diarahkan kepadanya bahwa dia hendak mengobarkan pemberontakan, membuatnya ditangkap, lalu digelandang ke Baghdad dalam keadaan dibelenggu dengan rantai bersama sejumlah orang-orang ‘Alawiyah. Beliau bersama orang-orang ‘Alawiyah itu dihadapkan ke hadapan Khalifah Harun ar-Rasyid. Khalifah menyuruh bawahannya menyiapkan pedang dan hamparan kulit. Setelah memeriksa mereka seorang demi seorang, ia menyuruh pegawainya memenggal kepala mereka. Ketika sampai pada gilirannya, Imam Syafi‘i berusaha memberikan penjelasan kepada Khalifah. Dengan kecerdasan dan ketenangannya serta pembelaan dari Muhammad bin al-Hasan -ahli fiqih Irak-, beliau berhasil meyakinkan Khalifah tentang ketidakbenaran apa yang dituduhkan kepadanya. Akhirnya beliau meninggalkan majelis Harun ar-Rasyid dalam keadaan bersih dari tuduhan bersekongkol dengan ‘Alawiyah dan mendapatkan kesempatan untuk tinggal di Baghdad.
Di Baghdad, beliau kembali pada kegiatan asalnya, mencari ilmu. Beliau meneliti dan mendalami madzhab Ahlu Ra’yu. Untuk itu beliau berguru dengan mulazamah kepada Muhammad bin al-Hassan. Selain itu, kepada Isma‘il bin ‘Ulayyah dan Abdul Wahhab ats-Tsaqafiy dan lain-lain. Setelah meraih ilmu dari para ulama Irak itu, beliau kembali ke Mekkah pada saat namanya mulai dikenal. Maka mulailah ia mengajar di tempat dahulu ia belajar. Ketika musim haji tiba, ribuan jamaah haji berdatangan ke Mekkah. Mereka yang telah mendengar nama beliau dan ilmunya yang mengagumkan, bersemangat mengikuti pengajarannya sampai akhirnya nama beliau makin dikenal luas. Salah satu di antara mereka adalah Imam Ahmad bin Hanbal.
Ketika kamasyhurannya sampai ke kota Baghdad, Imam Abdurrahman bin Mahdi mengirim surat kepada Imam Syafi‘i memintanya untuk menulis sebuah kitab yang berisi khabar-khabar yang maqbul, penjelasan tentang nasikh dan mansukh dari ayat-ayat Alquran dan lain-lain. Maka beliau pun menulis kitabnya yang terkenal, Ar-Risalah.
Setelah lebih dari 9 tahun mengajar di Mekkah, beliau kembali melakukan perjalanan ke Irak untuk kedua kalinya dalam rangka menolong madzhab Ash-habul Hadits di sana. Beliau mendapat sambutan meriah di Baghdad karena para ulama besar di sana telah menyebut-nyebut namanya. Dengan kedatangannya, kelompok Ash-habul Hadits merasa mendapat angin segar karena sebelumnya mereka merasa didominasi oleh Ahlu Ra’yi. Sampai-sampai dikatakan bahwa ketika beliau datang ke Baghdad, di Masjid Jami ‘ al-Gharbi terdapat sekitar 20 halaqah Ahlu Ra ‘yu. Tetapi ketika hari Jumat tiba, yang tersisa hanya 2 atau 3 halaqah saja.
Beliau menetap di Irak selama dua tahun, kemudian pada tahun 197 beliau balik ke Mekkah. Di sana beliau mulai menyebar madzhabnya sendiri. Maka datanglah para penuntut ilmu kepadanya meneguk dari lautan ilmunya. Tetapi beliau hanya berada setahun di Mekkah.
Tahun 198, beliau berangkat lagi ke Irak. Namun, beliau hanya beberapa bulan saja di sana karena telah terjadi perubahan politik. Khalifah al-Makmun telah dikuasai oleh para ulama ahli kalam, dan terjebak dalam pembahasan-pembahasan tentang ilmu kalam. Sementara Imam Syafi‘i adalah orang yang paham betul tentang ilmu kalam. Beliau tahu bagaimana pertentangan ilmu ini dengan manhaj as-salaf ash-shaleh –yang selama ini dipegangnya- di dalam memahami masalah-masalah syariat. Hal itu karena orang-orang ahli kalam menjadikan akal sebagai patokan utama dalam menghadapi setiap masalah, menjadikannya rujukan dalam memahami syariat padahal mereka tahu bahwa akal juga memiliki keterbatasan-keterbatasan. Beliau tahu betul kebencian meraka kepada ulama ahlu hadits. Karena itulah beliau menolak madzhab mereka.
Dan begitulah kenyataannya. Provokasi mereka membuat Khalifah mendatangkan banyak musibah kepada para ulama ahlu hadits. Salah satunya adalah yang dikenal sebagai Yaumul Mihnah, ketika dia mengumpulkan para ulama untuk menguji dan memaksa mereka menerima paham Alquran itu makhluk. Akibatnya, banyak ulama yang masuk penjara, bila tidak dibunuh. Salah satu di antaranya adalah Imam Ahmad bin Hanbal. Karena perubahan itulah, Imam Syafi‘i kemudian memutuskan pergi ke Mesir. Sebenarnya hati kecilnya menolak pergi ke sana, tetapi akhirnya ia menyerahkan dirinya kepada kehendak Allah. Di Mesir, beliau mendapat sambutan masyarakatnya. Di sana beliau berdakwah, menebar ilmunya, dan menulis sejumlah kitab, termasuk merevisi kitabnya ar-Risalah, sampai akhirnya beliau menemui akhir kehidupannya di sana.

Keteguhannya Membela Sunnah
Sebagai seorang yang mengikuti manhaj Ash-habul Hadits, beliau dalam menetapkan suatu masalah terutama masalah aqidah selalu menjadikan Alquran dan Sunnah Nabi sebagai landasan dan sumber hukumnya. Beliau selalu menyebutkan dalil-dalil dari keduanya dan menjadikannya hujjah dalam menghadapi penentangnya, terutama dari kalangan ahli kalam. Beliau berkata, “Jika kalian telah mendapatkan Sunnah Nabi, maka ikutilah dan janganlah kalian berpaling mengambil pendapat yang lain.” Karena komitmennya mengikuti sunnah dan membelanya itu, beliau mendapat gelar Nashir as-Sunnah wa al-Hadits.
Terdapat banyak atsar tentang ketidaksukaan beliau kepada Ahli Ilmu Kalam, mengingat perbedaan manhaj beliau dengan mereka. Beliau berkata, “Setiap orang yang berbicara (mutakallim) dengan bersumber dari Alquran dan sunnah, maka ucapannya adalah benar, tetapi jika dari selain keduanya, maka ucapannya hanyalah igauan belaka.” Imam Ahmad berkata, “Bagi Syafi‘i jika telah yakin dengan keshahihan sebuah hadits, maka dia akan menyampaikannya. Dan prilaku yang terbaik adalah dia tidak tertarik sama sekali dengan ilmu kalam, dan lebih tertarik kepada fiqih.” Imam Syafi ‘i berkata, “Tidak ada yang lebih aku benci daripada ilmu kalam dan ahlinya” Al-Mazani berkata, “Merupakan madzhab Imam Syafi‘i membenci kesibukan dalam ilmu kalam. Beliau melarang kami sibuk dalam ilmu kalam.”
Ketidaksukaan beliau sampai pada tingkat memberi fatwa bahwa hukum bagi ahli ilmu kalam adalah dipukul dengan pelepah kurma, lalu dinaikkan ke atas punggung unta dan digiring berkeliling di antara kabilah-kabilah dengan mengumumkan bahwa itu adalah hukuman bagi orang yang meninggalkan Alquran dan Sunnah dan memilih ilmu kalam.

Wafatnya
Karena kesibukannya berdakwah dan menebar ilmu, beliau menderita penyakit bawasir yang selalu mengeluarkan darah. Makin lama penyakitnya itu bertambah parah hingga akhirnya beliau wafat karenanya. Beliau wafat pada malam Jumat setelah shalat Isya’ hari terakhir bulan Rajab permulaan tahun 204 dalam usia 54 tahun. Semoga Allah memberikan kepadanya rahmat-Nya yang luas.
Ar-Rabi menyampaikan bahwa dia bermimpi melihat Imam Syafi‘i, sesudah wafatnya. Dia berkata kepada beliau, “Apa yang telah diperbuat Allah kepadamu, wahai Abu Abdillah ?” Beliau menjawab, “Allah mendudukkan aku di atas sebuah kursi emas dan menaburkan pada diriku mutiara-mutiara yang halus”

Karangan-Karangannya
Sekalipun beliau hanya hidup selama setengah abad dan kesibukannya melakukan perjalanan jauh untuk mencari ilmu, hal itu tidaklah menghalanginya untuk menulis banyak kitab. Jumlahnya menurut Ibnu Zulaq mencapai 200 bagian, sedangkan menurut al-Marwaziy mencapai 113 kitab tentang tafsir, fiqih, adab dan lain-lain. Yaqut al-Hamawi mengatakan jumlahnya mencapai 174 kitab yang judul-judulnya disebutkan oleh Ibnu an-Nadim dalam al-Fahrasat. Yang paling terkenal di antara kitab-kitabnya adalah al-Umm, yang terdiri dari 4 jilid berisi 128 masalah, dan ar-Risalah al-Jadidah (yang telah direvisinya) mengenai Alquran dan As-Sunnah serta kedudukannya dalam syariat.
Fiqh Imam Syafi’i
Fiqh Imam Syafi’i merupakan penggabungan antara aliran “naqli” dengan aliran “ra’yi”, menggabungkan cara-cara untuk memahami Qur’an dan mengistinbatkan hukum, sehingga beliau dianggap sebagai pendiri ushul fiqh.
Imam Syafi’i berkata,” Dimanapun bumi kuinjak dan langit yang menjauhiku, apabila disampaikan orang sesuatu yang tidak sampai dengan sesuatu yang aku katakan, aku akan dengar dan patuhi”. “Adapun yang aku katakan dan gariskan, kan tetapi bertentangan dengan perkataan Rasulullah, maka pendapatku sebenarnya adalah yang dikatakan oleh Rasulullah.”
Oleh sebab itu, beliau sangat memperhatikan dan banyak sekali menghafal hadits. Ibnu Farhun dalam bukunya “Ad Dibajul Madzahib” mengatakan Imam Syafi’i adalah seorang hafiz dan dapat menghafal kitab “Al Muwaththa” dalam tempo 9 malam saja. Fakhrudin ar Razi membayangkan betapa besar peranan Imam Syafi’i dalam menyatukan antara hadits dan pemikiran dengan menjelaskan bahwa ulama sebelum Imam Syafi’i terbagi menjadi 2 golongan; yakni ahli hadits dan ahli ra’yi. Imam Syafi’i banyak mengetahui hadits Rasul tentang macam-macamnya, cara-cara berdiskusi, punya lidah fasih, sehingga dapat mengalahkan ahli pikir yang berusaha menjatuhkan ahli hadits.
Imam Syafi’i juga menjadikan ijma’ sebagai sumber hukum sesudah Qur’an dan Sunnah dengan beberapa syarat. beliau memberi pendapat-pendapat yang berdasarkan pada “terkaan” belaka dalam masalah agama. Karena itu, beliau tidak menyukai ilmu kalam dan bid’ah. Beliau juga merasa sedih melihat pertengkaran ahli ilmu kalam yang sudah saling kafir mengkafirkan. Imam Syafi’i berpendapat bahwa seseorang belum boleh mengeluarkan hukum syari’ah kalau belum mengetahui cara-cara dan syarat-syarat qias. Beliau menilai orang yang mencari-cari alasan tentang sesuatu berdasarkan pikirannya, seolah-olah telah mengadakan bid’ah dalam agama. Ar Razi mengatakan bahwa kedudukan Imam Syafi’i dalam ilmu ushul seperti kedudukan Aristoteles dalam ilmu logika (mantiq) dan Khalid bin Ahmad dalam ilmu Syair.
Setelah menyelidiki madzhab-madzhab yang terkemuka, beliaupun meneruskan peraturan-peraturan yang lengkap mengenai cara mengambil hukum dari Qur’an, Sunnah, Ijma’ dan Qias. Imam Syafi’i adalah orang yang mampu menjelaskan cara “mengistinbatkan” hukum dari Al Qur’an dan hadits, mengetahui nash-nash yang “nasikh” dan yang “mansukh” yang “mujmal” dan yang “mubayyan”, yang “khas” dan yang “am” dan ilmu “mantiq”.
Karya Tulis Imam Syafi’i
Menurut sebagian ahli sejarah beliau telah menulis 13 buah kitab, yaitu dalam bidang ushul fiqh, fiqh sastra dan lain-lain. Diantara kitab Imam Syafi’i yang terkenal adalah “Ar Risalah” tentang ushul fiqh yang ditulis atas permintaan Abdurrahman al Mahdi, salah seorang ahli hadits di masa Imam Syafi’i.
Di Baghdad, Imam Syafi’i menulis kitab “A Hujjah” sesuai dengan pendapat beliau dengan madzhab “al qadim” nya. Kitab beliau yang lain ialah “Al Wayasa al Kabirah”, Ikhtilaf Ahlil Iraq, Washiyatus Syafi’i, Jami’al Ilm, Ibtal al Istihsan, Janni’al Mizan al Kabir, Jami’al Mizan a Shaghir, Al Amali, Mukhtasar al Rabi’wal Buwaiti, al Imala dan sebagainya, disamping “Al Um” sebagai kitab terlengkap dalam ilmu fiqh.
Imam Syafi’i dan bahasa arab
Bahasa Ibu Imam Syafi’i adalah bahasa Arab. Namun beliau juga mempelajari bahasa Arab selama 20 tahun sehingga menjadi seorang yang ahli dalam bahasa Arab. Ibnu Hisyam, Abu Ubaid, Ayyub bin Suwaid, Abu Usman Al Mazini, sebagai para ahli bahasa arab menegaskan Imam Syafi’i adalah “hujjah” (pendapatnya dipakai alasan) dalam bahasa Arab.
Imam Syafi’i adalah orang yang ahli ilmu bahasa dan ahli menggunakan bahasa, ahli sastra dan seorang sastrawan. Ibnu Hisyam, seorang ahli bahasa Arab, dan Az Za’farani pernah berkata bahwa Imam Syafi’i tidak pernah bersalah sedikitpun dalam menggunakan bahasa arab. Ar Rabi’ berkata bahwa lidah imam Syafi’i lebih besar dari kitab-kitabnya. Diantara penulis sejarah hidup Imam Syafi’i ada yang meriwayatkan ini, Allah sajalah yang tahu benar tidaknya riwayat ini bahwa beliau pernah bermimpi dimana Nabi Muhammad SAW datang mengusap lidah Imam Syafi’i dengan air ludahnya dan berkata “Pergilah, semoga Allah memberkahi engkau.”
Imam Syafi’i sebagai penyair
Al Mubarrid berkata,” Imam Syafi’i adalah seorang penyair dan sastrawan yang hebat, seorang yang paling mengetahui ilmu Qiraat”.
Mas’ah bin Zubair berkata bahwa ayahnya pernah membaca syair bersama Imam Syafi’i. ketika Imam Syafi’i membaca syair kabilah Huzail, ayahnya mengingatkan Imam Syafi’i agar tidak mengajarkan syair tersebut kepada ahli hadits karena mereka tidak akan mampu menghafalnya.
Ismail bin Yahya al Mizani pernah menjenguk Imam Syafi’i yang tengah menderita sakit yang membawa kematian beliau. Imam Syafi’i berkata: “Aku kira aku akan meninggal dunia, akan berpisah dengan kawan-kawan. Sekarang aku sedang meminum segelas kematian. Aku sedang kembali menemui Allah yang Maha Besar dan Maha Mulia. Demi Allah aku tidak tahu apakah rohku menuju surga atau neraka”.
Lalu, Imam Syafi’i menangis dan bersyair:
Di kala jiwaku telah memberontak, alamku telah sempit
Hanya kemaafan-Mu lah, tumpuan harapan penyerahan dariku
Dosa-dosaku besar, tetapi manakala kubandingkan
Dengan samudera kemaafan-Mu, kemaafan-Mu lah yang jauh lebih besar
Dikaulah pemilik keampunan dan kemaafan dan (aku yakin)
Engkau masih tetap mengampuni
Dengan rahmat dan kemuliaan-Mu, Engkau memuliakan dan mengampuni
Jika Engkau izinkan iblis tidak sanggup menggoda hamba-Mu
Kenapakah hamba-Mu yang suci Adam, dapat tergoda?
Imam Syafi’i dan Politik
Imam Syafi’i berpendapat bahwa umat islam wajib memiliki khalifah yang berasal dari bangsa Quraisy, dan harus dengan bai’at rakyat, atau dengan cara lain kalau keadaan memaksa. Kalau salah seorang telah di bai’at oleh rakyat maka kepemimpinannya harus diterima.
Beliau tidak suka mencampuri pertentangan yang terjadi antara Ali dan Mu’awiyah. Beliau sependapat dengan Umar bin Abdul Aziz dalam menyikapi pertentangan tersebut: “Tanganku telah dilindungi Allah dari darah-darah yang tertumpah dalam perang tersebut. karena itu, aku tidak mau mengotori lidahku dengan pembicaraan masalah tersebut”.
Imam Syafi’i menyokong golongan Alawiyyin yang menentang golongan Abbasiyien. Beliau menanggapi pelantikan Ali dengan kata-kata: “Imam Ali memiliki beberapa sifat yang kalau orang lain memiliki salah satunya, dia pantas tidak takut kepada siapapun juga. Beliau seorang zahid, dan orang zahid tidak menghiraukan dunia dan isinya. Beliau seorang yang berilmu pengetahuan, dan orang yang berilmu tidak khawatir kepada siapapun. Beliau seorang yang berani dan orang yang pemberani tidak takut kepada siapapun. Beliau orang yang mulia dan orang yang mulia tidak takut pada siapapun.
Pujian dan Kritikan Terhadap Imam Syafi’i
Pujian
Abu Bakar Al Humaidi berkata,” Imam Syafi’i adalah pemuka ilmu fiqh”.
Ahmad bin Hanbal berkata,” Imam Syafi’i adalah filosof dalam empat hal: bahasa, tempat manusia berpedoman, ilmu ma’ani dan ilmu fiqh.
Sufyan Ats Tsauri berkata,”Imam Syafi’i adalah orang yang termulia pada waktu itu”.
Yahya bin Said Al Kattani berkata,” Aku belum pernah bertemu orang yang lebih pintar dan ahli dalam ilmu fiqh selain Imam Syafi’i”.
Muhammad bin Abdulhakam berkata,” Jika Imam Syafi’i tidak ada tentu aku tidak mengetahui bagaimana cara menjawab pertanyaan orang. Beliau juga orang yang mengajarkan ilmu qias. Beliau pendukung sunnah dan atsar, berlidah fasih, pintar dan bersikap tegas”.
Daud bin Abu Az Zahiri berkata,” Imam Syafi’i mempunyai kelebihan-kelebihan yang tidak ada pada orang lain. Ia keturunan orang-orang mulia, beragama dengan konsekuen, memiliki jiwa yang halus, memiliki pengetahuan tentang hadis yang shahih dan tidak shahih, hafal nasikh dan mansukh, hafal Qur’an dan hadits, mengetahui sejarah khalifah-khalifah dan keindahan tulisan.
Kritikan
Sebagian pengkritik mengatakan bahwa beliau bukanlah seorang reformer, karena tidak sanggup membasmi golongan-golongan ekstrim pada waktu itu, dan karena beliau berpendapat yang berhak jadi khalifah hanyalah orang Quraisy dan sah walaupun tanpa bai’at rakyat, dalam keadaan terpaksa. Padahal kedaulatan di tangan rakyat. Memegang kekuasaan dengan kekuatan pedang adalah merampas dan berkhianat.
Kritik lainnya dilancarkan karena beliau menyokong pendapat golongan ekstrim yang mengatakan sekufu antara kedua calon pengantin adalah syarat sah perkawinan, dan mereka mengatakan bahwa orang Quraisy hanya sekufu dengan orang Quraisy dan orang Arab dengan orang Arab. Padahal Allah menegaskan dalam QS. Hujurat:13;
Hai Manusia, sesungguhnya Kami telah ciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan, bersuku bangsa, hanyalah untuk saling mengenal. Sesungguhnya orang termulia diantara kamu ialah orang yang bertaqwa.
Sebenarnya dalam hal ini Imam Syafi’i mengambil jalan tengah, beliau berpendapat bahwa menikah dengan yang tidak sekufu bukanlah haram yang membatalkan akad, semua terserah kepada pengantin perempuan atau walinya, apabila mereka setuju maka sah-lah pernikahannya, jika tidak nikahnya harus di fasakh. Imam Syafi’i berkata,” tidak ada hadits yang menyatakan bahwa kufu itu berdasarkan keturunan”.
Sifat-sifat Imam Syafi’i
Basyrat Muraisi berkata,”Akal orang ini menyamai akal separuh penduduk dunia. Beliau lebih menyukai membicarakan masalah-masalah pokok daripada masalah kecil”.
Imam Syafi’i memiliki lidah yang fasih dan iman yang teguh. Beliau sangat menjaga diri (wara’), sehingga Yahya bin Mu’in berkata,” Jika berkata dusta itu diperbolehkan Allah, tentu Imam Syafi’i akan menahan diri agar tidak berdusta untuk menjaga dirinya”. Beliau berkata,” Jika meminum air dingin menjatuhkan harga diri, tentu aku tidak akan meminumnya”.
Beliau seorang yang berhati lembut dan pemurah. Dimana saja beliau tetap mempertahankan kebenaran. Tidak segan beliau mencabut pendapat yang telah dikemukakan kalau memang ternyata salah, atau ada pendapat lain yang lebih kuat. Karena itu dalam fiqh beliau kita dapati ada dua madzhab, Al Qadim (yang lama) dan Al Jadid (yang baru).
Dalam mempertahankan kebenaran beliau tidak dipengaruhi oleh hubungan persaudaraan dan keluarga, karena kebenaran adalah masalah lain dari hubungan persaudaraan. Hal ini diriwayatkan oleh Imam Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin.
Imam Syafi’i senantiasa menjauhi maksiat dan hal-hal yang dianggap tidak baik. Seperti yang dinasihatkan Imam Malik: “Wahai Muhammad (Idris), Allah telah memasukkan Nur ke dalam hatimu. Karena itu janganlah kotori dengan berbuat maksiat, bertakwallah kepada Allah, engkau akan diberi Nya sesuatu”.
Ketaqwaan dan ketakutan Imam Syafi’i kepada Allah selalu menyertai dimanapun berada. Sebagaimana beliau menyatakan keadaannya; “Keadaanku adalah sebagaimana orang yang sedang dimintai pertanggungjawaban tentang delapan masalah, yaitu Allah SWT dengan Al Qur’an , Nabi Muhammad dengan sunnahnya, Malaikat penghafal dengan apa yang dihafalkannya, setan dengan kemaksiatan, waktu dengan penggunaannya, jiwa dengan nafsu, anak-anak dengan makanan mereka, dan malaikat maut dengan roh”. Imam Syafi’i sangat banyak melakukan tahajud di malam hari. Beliau membagi waktu malam nya menjadi tiga bagian; sepertiga untuk menulis, sepertiga untuk shalat tahajud dan sepertiga lagi untuk tidur.
Imam Ahmad bin Hanbal secara berlebihan pernah mengatakan bahwa ada diriwayatkan dari Rasulullah bahwa Allah akan mengutus pembaru dalam agama. Umar bin Abdul Aziz diutus untuk seratus tahun pertama dan Imam Ahmad bin Hanbal berharap yang kedua adalah Imam Syafi’i. jamaludin Asy Sayuthi pernah menguntaikan dalam rangkaian syairnya yang bernama “ Tuhfatul Muhtadin bi akhbaril Mujahidin”, bahwa pembaru abad pertama adalah Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan Imam Syafi’i adalah pembaru kedua.
Sayangnya, Imam Syafi’i tidak dikaruniai Allah umur panjang, sebagaimana Imam Malik. Beliau sering menderita sakit seperti wasir yang banyak mengeluarkan darah. Di usia 54 tahun, beliau meninggal dunia di Mesir di rumah sahabatnya Abdullah bin Hakam ba’da maghrib. Beliau dimakamkan di sebelah barat Al Khandak, dekat kuburan Zahith, dan tempat tersebut menjadi masyhur sebagai bukti kebesaran beliau.
Sumber :
1. Al-Umm, bagian muqoddimah hal 3-33.
2. Siyar A‘lam an-Nubala’
3. Manhaj Aqidah Imam asy-Syafi‘, terjemah kitab Manhaj al-Imam Asy-Syafi ‘i fi Itsbat al-‘Aqidah karya DR. Muhammad AW al-Aql terbitan Pustaka Imam Asy-Syafi‘i, Cirebon.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar